SEJARAH DESA

1781543020054.jpeg
Gambar: Landscape Desa Lung Simau ( Mitha Purnamasari ) Sumber: https://www.lungsimau.desa.id/

Desa Lung Simau merupakan salah satu desa yang dihuni oleh mayoritas masyarakat Suku Dayak Lundayeh. Suku lundayeh itu sendiri berasal dari keturunan suku nenek moyang yang konon dulu menurut sejarahnya tinggal di daratan hulu sungai, makanya salah satu sub suku dayak ini disebut sebagai Suku Lundayeh karena dulu hidup di daratan hulu sungai. Oleh karena itu arti dari kata Lundayeh itu adalah Lun adalah orang, sedang kan Dayeh adalah hulu yang berarti orang hulu.

 

Desa Lung Simau merupakan satu dari sepuluh desa yang berada di wilayah kecamatan mentarang hulu, Jarak tempuh dari ibu kota Kabupaten ± 5 - 6 Jam dengan menggunakan kendaraan sungai yaitu Long Boat. Desa Lung Simau berada di daerah pinggiran sungai yang di kenal dengan Sungai Mentarang yang disekitar wilayah desa ini di dikelilingi oleh daerah pegunungan dan hutan alam. Sejak Indonesia menyatakan kemerdekaannya, beranjak dari tahun 2012-2014 baru masyarakat Lung Simau benar-benar merasakan kemerdekaannya, karena sarana komunikasi dan akses jalan lewat darat sudah dapat digunakan oleh masyarakat. Hal ini tentunya menjadi kegembiaraan dan kebanggaan bagi masyarakat Lung Simau sudah merasakan kehidupan seperti yang dirasakan oleh masyarakat yang berada di ibu kota kabupaten Malinau ini. Terbentuknya Desa Lung Simau adalah karena dulu ada pemilihan untuk Presiden, jadi dibentuklah desa-desa untuk menjadi tim sukses pemenangan di KPU dari salah satu calon presiden.

 

Jika kita mentelusuri sejarah desa Lung Simau ini pada masa-masa nenek moyang dulu, jika ingin ke ibu kota Kabupaten harus menempuh waktu hingga lima hari perjalanan Sungai bahkan ada juga yang menggunakan Rakit Kayu, dan sekarang hanya dapat ditempuh dengan waktu 5-6 jam saja, baik menggunakan kendaraan darat maupun kendaraan sungai. Ini membuktikan bahwa perkembangan yang terjadi sudah benar-benar dirasakan oleh masyarakat Lung Simau Khususnya. Desa Lung Simau dihuni dengan jumlah penduduk 130 jiwa dengan jumlah 29 KK yang terbagi dalam 1 RT  akan tetapi warga Lung Simau ada juga yang pindah ke ibu Kota Malinau sehingga bisa disebut diatas Giram dan dibawah Giram. Rendahnya SDM  Desa Lung Simau sehingga masyarakat sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil hutan, seperti kayu gaharu, hasil buruan dan kayu yang dikelola untuk bahan bangunan rumah dan sebagian besar juga masyarakat Lung Simau rata-rata berprofesi sebagai petani sawah dan petani ladang. Potensi dalam bidang pertanian di Desa Lung Simau sebenarnya sangat baik, karena memiliki lahan yang cukup luas serta kondisi sawah yang bagus, namun oleh karena keterbatasan SDM dibidang pertanian dalam hal mengelolah lahan pertaniannya sehingga kondisi persawahannya tidak terpelihara dengan baik karena masyarakat setempat menggunakan lahan pertaniannya pada musim berladang saja, jika sudah selesai panen maka sawahnya tidak dikelolah lagi melainkan ditinggal begitu saja. Terkadang pada saat musim panen hanya sedikit saja hasil yang diperolah bahkan ada yang mengalami gagal panen. Hal ini dikarenakan tidak terpeliharanya benih padi, serangan hama dan faktor keterbatasan yang dimiliki oleh para petani. Hama yang sangat banyak dan mengganggu pada musim panen padi adalah kuyat (monyet ekor panjang), becuk (beruk), payau (rusa) dan beberapa burung pipit (padi sawah).

Bagikan post ini: