SEJARAH DESA
Desa
Lung Simau merupakan salah satu desa yang dihuni oleh mayoritas masyarakat Suku
Dayak Lundayeh. Suku lundayeh itu sendiri berasal dari keturunan suku nenek
moyang yang konon dulu menurut sejarahnya tinggal di daratan hulu sungai,
makanya salah satu sub suku dayak ini disebut sebagai Suku Lundayeh karena dulu
hidup di daratan hulu sungai. Oleh karena itu arti dari kata Lundayeh itu
adalah Lun adalah orang, sedang kan Dayeh adalah hulu yang berarti orang hulu.
Desa
Lung Simau merupakan satu dari sepuluh desa yang berada di wilayah kecamatan
mentarang hulu, Jarak tempuh dari ibu kota Kabupaten ± 5 - 6 Jam dengan
menggunakan kendaraan sungai yaitu Long Boat. Desa Lung Simau berada di daerah
pinggiran sungai yang di kenal dengan Sungai Mentarang yang disekitar wilayah
desa ini di dikelilingi oleh daerah pegunungan dan hutan alam. Sejak Indonesia
menyatakan kemerdekaannya, beranjak dari tahun 2012-2014 baru masyarakat Lung
Simau benar-benar merasakan kemerdekaannya, karena sarana komunikasi dan akses
jalan lewat darat sudah dapat digunakan oleh masyarakat. Hal ini tentunya
menjadi kegembiaraan dan kebanggaan bagi masyarakat Lung Simau sudah merasakan
kehidupan seperti yang dirasakan oleh masyarakat yang berada di ibu kota
kabupaten Malinau ini. Terbentuknya Desa Lung Simau adalah karena dulu ada
pemilihan untuk Presiden, jadi dibentuklah desa-desa untuk menjadi tim sukses
pemenangan di KPU dari salah satu calon presiden.
Jika
kita mentelusuri sejarah desa Lung Simau ini pada masa-masa nenek moyang dulu,
jika ingin ke ibu kota Kabupaten harus menempuh waktu hingga lima hari
perjalanan Sungai bahkan ada juga yang menggunakan Rakit Kayu, dan sekarang
hanya dapat ditempuh dengan waktu 5-6 jam saja, baik menggunakan kendaraan
darat maupun kendaraan sungai. Ini membuktikan bahwa perkembangan yang terjadi
sudah benar-benar dirasakan oleh masyarakat Lung Simau Khususnya. Desa Lung
Simau dihuni dengan jumlah penduduk 130 jiwa dengan jumlah 29 KK yang terbagi
dalam 1 RT akan tetapi warga Lung Simau
ada juga yang pindah ke ibu Kota Malinau sehingga bisa disebut diatas Giram dan
dibawah Giram. Rendahnya SDM Desa Lung
Simau sehingga masyarakat sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil
hutan, seperti kayu gaharu, hasil buruan dan kayu yang dikelola untuk bahan
bangunan rumah dan sebagian besar juga masyarakat Lung Simau rata-rata
berprofesi sebagai petani sawah dan petani ladang. Potensi dalam bidang
pertanian di Desa Lung Simau sebenarnya sangat baik, karena memiliki lahan yang
cukup luas serta kondisi sawah yang bagus, namun oleh karena keterbatasan SDM
dibidang pertanian dalam hal mengelolah lahan pertaniannya sehingga kondisi
persawahannya tidak terpelihara dengan baik karena masyarakat setempat
menggunakan lahan pertaniannya pada musim berladang saja, jika sudah selesai
panen maka sawahnya tidak dikelolah lagi melainkan ditinggal begitu saja.
Terkadang pada saat musim panen hanya sedikit saja hasil yang diperolah bahkan
ada yang mengalami gagal panen. Hal ini dikarenakan tidak terpeliharanya benih
padi, serangan hama dan faktor keterbatasan yang dimiliki oleh para petani.
Hama yang sangat banyak dan mengganggu pada musim panen padi adalah kuyat
(monyet ekor panjang), becuk (beruk), payau (rusa) dan beberapa burung pipit
(padi sawah).